Kamis, 13 April 2017

Kriteria Penilaian Media Audio Visual

Kriteria penilaian pengembangan media pembelajaran Audio Visual
Ahli bidang studi dan ahli media dalam melakukan evaluasi perlu mempertimbangkan kriteria  penilaian/evaluasi. Kriteria penilaian dimaksud merupakan pedoman penilai dalam melaksanakan  penilaian media pendidikan baik  yang  berkait dengan software (perangkat lunak) maupun hardware (perangkat keras). Kriteria penilaian perangklat lunak (software) media pendidikan dibagi menjadi dua bagian yaitu kriteria penilaian yang menyangkut fisik perangkat lunak dan kriteria penilaian yang menyangkut isi perangkat lunak.
Contoh kriteria fisik perangkat lunak media audio visual:
·      Kriteria Penilaian Fisik Program Video/VCD
a.  Setiap program video disertai dengan buku petunjuk pemaikaian/penyerta.
b.  Menggunakan pita (kaset) video yang standar dan bermutu
c.  Pada setiap pita (kaset) video dicantumkan judul program, bidang studi, dan sasaran.
d.  Pada setiap pita (kaset) video disertai dengan tanda lolos sensor
e.  Disertai dengan lembar evaluasi
f.  Memiliki kantong untuk tempat untuik melindungi buku penyerta, pita (kaset) video, lembar evaluasi.
g.  Setiap  kantong  program  memiliki  label  yang  memuat  judul, sasaran, bidang studi, dan durasi.

·      Kriteria Penilaian Isi Perangkat Lunak (Kriteria Khusus) media audio visual:
1. Kaset Audio
a. Segi materi
1) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan
2) mudah dimengerti
3) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa
4) Bahan disajikan dari yang mudah menuju sulit
5) Tidak banyak menggunakan kata-kata sulit

b. Segi Narasi
1) Volume suara cukup baik
2) intonasi suara cukup baik
3) gaya bahasa
4) Kejelasan ucapan
5) Tempo ucapan

c. Segi Musik/Efek suara
1) Ilustrasi musik mendukung program
2) Efek suara mendukung program
3) Ilustrasi musik/efek suara tidak terlalu keras

2. Slide Suara
a. Segi materi
1) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan
2) mudah dimengerti
3) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa
4) Bahan disajikan dari yang mudah menuju sulit
5) Tidak banyak menggunakan kata-kata sulit

b. Segi Narasi
1) Volume suara cukup baik
2) intonasi suara cukup baik
3) gaya bahasa
4) Kejelasan ucapan
5) Tempo ucapan

c. Segi Visualisasi
1) ukuran gambar
2) komposisi gambar
3) warna gambar
4) ketajaman gambar
5) Pencahayaan gambar
6) ilustrasi mendukung gambar
7) huruf mudah digambar
8) caption/grafis menarik

d. Segi Musik/Efek suara
1) Ilustrasi musik mendukung program
2) Efek suara mendukung program
3) Ilustrasi musik/efek suara tidak terlalu keras

e. Segi Penyajian
1) sistematis
2) Pergantian gambar tidak terlalu cepat

3. Kaset Video/VCD
a. Segi materi
1) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan
2) mudah dimengerti
3) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa
4) Bahan disajikan dari yang mudah menuju sulit
5) Tidak banyak menggunakan kata-kata sulit

b. Segi Narasi
1) Volume suara cukup baik
2) intonasi suara cukup baik
3) gaya bahasa
4) Kejelasan ucapan
5) Tempo ucapan

c. Segi Visualisasi
1) ukuran gambar
2) komposisi gambar
3) warna gambar
4) ketajaman gambar
5) Pencahayaan gambar
6) ilustrasi mendukung gambar
7) huruf mudah digambar
8) caption/grafis menarik

d. Segi Musik/Efek suara
1) Ilustrasi musik mendukung program
2) Efek suara mendukung program
3) Ilustrasi musik/efek suara tidak terlalu keras

e. Segi Penyajian
1) sistematis
2) Pergantian gambar tidak terlalu cepat


Contoh instrumen penilaian media audio visual

Langkah-Langkah Pengembangan Media Audio Visual

Langkah –Langkah Pengembangan Media Audio Visual

A. Pengertian Audio Visual
Sebelum beranjak ke pengertian media audio visual maka terlebih dahulu kita mengetahui arti kata media itu sendiri. Apabila dilihat dari etimologi “kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar, maksudnya sebagai perantara atau alat menyampaikan sesuatu” (Salahudin,1986: 3)
Sejalan dengan pendapat di atas, AECT (Association For Education Communication Technology) dalam Arsyad mendefinisikan bahwa “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk menyalurkan pesan informasi” (Arsyad,2002:11). Media pembelajaran sangat beraneka ragam. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, ternyata media yang beraneka ragam itu hampir semua bermanfaat. Cukup banyak jenis dan bentuk media yang telah dikenal dewasa ini, dari yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan sudah ada secara natural sampai kepada media yang harus dirancang sendiri oleh guru. Dari ketiga jenis media yang ada yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran, bahwasanya media audio-visual adalah media yang mencakup 2 jenis media yaitu audio dan visual.
Jika dilihat dari perkembangan media pendidikan, pada mulanya media hanya sebagai alat bantu guru. Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun, karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan aspek desain, pengembangan , produksi dan evaluasinya. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke-20, alat visual untuk mengkonkretkan ajaran ini dilengkapi dengan audio sehingga kita kenal adanya audio-visual. Konsep pengajaran visual kemudian berkembang menjadi audio-visual pada tahun 1940, istilah ini bermakna sejumlah peralatan yang dipakai oleh para guru dalam menyampaikan konsep gagasan dan pengalaman yang ditangkap oleh indera pandang dan pendengaran.
Sebagai media pembelajaran dalam pendidikan dan pengajaran, media audio- visual mempunyai sifat sebagai berikut:
Kemampuan untuk meningkatkan persepsi
Kemampuan untuk meningkatkan pengertian
Kemampuan untuk meningkatkan transfer (pengalihan) belajar.
Kemampuan untuk memberikan penguatan (reinforcement) atau pengetahuan hasil yang dicapai
Kemampuan untuk meningkatkan retensi (ingatan).
Media audio-visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat). Media Audiovisual merupakan sebuah alat bantu audiovisual yang berarti bahan atau alat yang dipergunakan dalam situasi belajar untuk membantu tulisan dan kata yang diucapkan dalam menularkan pengetahuan, sikap, dan ide.
Pengertian lain media audio-visual adalah seperangkat alat yang dapat memproyeksikan gambar bergerak dan bersuara. Paduan anatara gambar dan suara membentuk karakter sama dengan obyek aslinya. Alat-alat yang termasuk dalam kategori media audio-visual adalah: televise, video-VCD,sound dan film.

B. Langkah-Langkah Membuat Media Audio-Visual
Pembuatan media audio visual TV/Video pembelajaran memerlukan beberapa tahapan kegiatan antara lain:
1. Tahap Pra Produksi
Pada tahapan ini terdapat hal-hal yang diperlukan untuk sebuah proses pembuatan film pendek antara lain:
a. Ide cerita
Ide cerita adalah gagasan utama yang nantinya akan dijadikan sebuah scenario. Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Jika tujuan telah ditentukan maka semua detail cerita dan pembuatan film akan terlihat dan lebih mudah. Jika perlu diadakan observasi dan pengumpulan data dan faktanya. Bisa dengan membaca buku, artikel atau bertanya langsung kepada sumbernya. Ide film dapat diperoleh dari berbagai macam sumber antara lain: Pengalaman pribadi penulis yang menghebohkan, percakapan atau aktifitas sehari-hari yang menarik untuk difilmkan, cerita rakyat atau dongeng, biografi seorang terkenal atau berjasa. Adaptasi dari cerita di komik, cerpen, atau novel, dari kajian musik, dll.

b. Skenario
Adalah sebuah naskah yang nantinya akan di pentaskan ataupun di gambarkan pemain pada sebuah pertunjukan. Ada dua tugas utama penulis skenario yaitu menentukan plot yang menarik dan menciptakan karakter yang unik. Jika penulis naskah sulit mengarang suatu cerita, maka dapat mengambil cerita dari cerpen, novel ataupun film yang sudah ada dengan diberi adaptasi yang lain.

c. Breakdown Skenario
Setelah naskah disusun maka perlu diadakan Breakdown naskah yang memuat seluruh informasi detail yang dibutuhkan tiap scene harus ada. Breakdown naskah dilakukan untuk mempelajari rincian cerita yang akan dibuat film.

d. Rencana Biaya
Biaya adalah hal yang sangat vital untuk kelangsungan proses produksi sebuah pembuatan film pendek ini.

e. Mencari Tim Produksi
Secara garis besar beberapa posisi yang dibutuhkan adalah Produser (promotor yang pertama kali), penulis skenario, sutradara, cameramen, pemain, tim property dan editor.


f. Jadwal Produksi
Jadwal produksi dibuat setelah ada breakdown skenario, jadwal yang tersusun baik akan memperlancar dan menghemat seluruh tenaga serta biaya produksi. Jadwal atau working schedule disusun secara rinci dan detail, kapan, siapa saja , biaya dan peralatan apa saja yang diperlukan, dimana serta batas waktunya. Termasuk jadwal pengambilan gambar juga, scene dan shot keberapa yang harus diambil kapan dan dimana serta artisnya siapa. Lokasi sangat menentukan jadwal pengambilan gambar. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menyusun alokasi biaya: Penggandaan naskah skenario film untuk kru dan pemain, penyediaan kaset video, penyediaan CD blank sejumlah yang diinginkan, penyediaan property, kostum, make-up, honor untuk pemain, konsumsi, akomodasi dan transportasi, menyewa alat jika tidak tersedia.

g. Hunting Lokasi
Memilih dan mencari lokasi atau setting pengambilan gambar sesuai naskah. Untuk pengambilan gambar di tempat umum, biasanya memerlukan surat ijin. Akan sangat menggangggu jalannya shooting, jika dalam pertengahan shooting tiba-tiba diusir karena tidak ijin terlebih dahulu. Dalam hunting lokasi perlu diperhatikan berbagai resiko, seperti akomodasi, transportasi, keamanan saat shooting, tersedianya sumber  listik,dll. Setting yang telah ditentukan skenario harus betul-betl layak dan tidak menyulitkan pda saat produksi. Jika biaya produksi kecil, maka tidak perlu tempat yang jauh.

h. Menyiapkan Kostum dan Property
Memilih dan mencari pakaian yang akan dikenakan tokoh cerita beserta propertinya. Kostum dapat diperoleh dengan mendatangkan desainer khusus ataupun cukup membeli atau menyewa namun disesuaikan dengan cerita skenario. Kelengkapan produksi menjadi tanggung jawab tim property dan artistik.

i. Menyiapkan Peralatan
Untuk mendapatkan hasil film/video yang baik maka diperlukan peralatan yang lengkap dan berkualitas. Peralatan yang diperlukan (dalam film minimalis) seperti Clipboard, Proyektor, Lampu., Kabel Roll., TV Monitor., Kamera video S-VHS atau Handycam, Pita/Tape, Mikrophone clip-on wireless, Tripod Kamera, Tripod Lampu.

j. Casting Pemain
Memilih dan mencari pemain yang memerankan tokoh dalam cerita film. Dapat dipilih langsung ataupun dicasting terlebih dahulu. Casting dapat diumumkan secara luas atau cukup diberitahu lewat rekan-rekan saja. Pemilihan pemain selain diperhatikan dari segi kemampuannya juga dari segi budget/pembiayaan yang dimiliki.

2. Tahap Produksi

a. Tata Setting
Set construction atau tata setting merupakan bagunan latar belakang untuk keperluan pengambilan gambar. Setting tidak selalu berbentuk bangunan dekorasi tetapi lebih menekankan bagaimana membuat suasana ruang mendukung dan mempertegas latar peristiwa sehingga mengantarkan alur cerita secara menarik.

b. Tata Suara
Untuk menghasilkan suara yang baik maka diperlukan jenis mikrofon yang tepat dan berkualitas. Jenis mirofon yang digunakan adalah yang mudah dibawa, peka terhadap sumber suara, dan mampu meredam noise (gangguan suara) di dalam dan di luar ruangan.

c. Tata Cahaya
Penataan cahaya dalam produksi film sangat menentukan bagus tidaknya kualitas teknik film tersebut. Seperti fotografi, film juga dapat diibaratkan melukis dengan menggunakan cahaya. Jika tidak ada cahaya sedikitpun maka kamera tidak akan dapat merekam objek. Penataan cahaya dengan menggunakan kamera video cukup memperhatikan perbandingan Hi light (bagian ruang yang paling terang) dan shade (bagian yang tergelap) agar tidak terlalu tinggi atau biasa disebut hight contrast. Sebagai contoh jika pengambilan gambar dengan latar belakang lebih terang dibandingkan dengan artist yang sedang melakukan acting, kita dapat gunakan reflektor untuk menambah cahaya.
Reflektor dapat dibuat sendiri dengan menggunakan styrofoam atau aluminium foil yang ditempelkan di karton tebal atau triplek, dan ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Perlu diperhatikan karakteristik tata cahaya dalam kaitannya dengan kamera yang digunakan. Lebih baik sesuai ketentuan buku petunjuk kamera minimal lighting yang disarankan. Jika melebihi batasan atau dipaksakan maka gambar akan terihat seperti pecah dan tampak titik-titik yang menandakan cahaya under.
Perlu diperhatikan juga tentang standart warna pencahayaan film yang dibuat yang disebut white balance. Disebut white balance karena memang untuk mencari standar warna putih di dalam atau di luar ruangan, karena warna putih mengandung semua unsur warna cahaya.

d. Tata Kostum
Pakaian yang dikenakan pemain disesuaikan dengan isi cerita. Pengambilan gambar dapat dilakukan tidak sesuai nomor urut adegan, dapat meloncat dari scene satu ke yang lain. Hal ini dilakukan agar lebih mudah, yaitu dengan mengambil seluruh shot yang terjadi pada lokasi yang sama. Oleh karenanya sangat erlu mengidentifikasi kostum pemain. Jangan sampai adegan yang terjadi berurutan mengalami pergantian kostum. Untuk mengantisipasinya maka sebelum pengambilan gambar dimulai para pemain difoto dengan kamera digital terlebih dahulu atau dicatat kostum apa yang dipakai. Tatanan rambut, riasan, kostum dan asesoris yang dikenakan dapat dilihat pada hasil foto dan berguna untuk shot selanjutnya.

e. Tata Rias
Tata rias pada produksi film berpatokan pada skenario. Tidak hanya pada wajah tetapi juga pada seluruh anggota badan. Tidak membuat untuk lebih cantik atau tampan tetapi lebih ditekankan pada karakter tokoh. Jadi unsur manipulasi sangat berperan pada teknik tata rias, disesuaikan pula bagaimana efeknya pada saat pengambilan gambar dengan kamera. Membuat tampak tua, tampak sakit, tampak jahat/baik, dll.

3. Tahap Pasca Produksi
a. Proses Editing
Secara sederhana, proses editing merupakan usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan film menjadi lebih berguna dan enak ditonton. Dalam kegiatan ini seorang editor akan merekonstruksi potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera.
Tugas editor antara lain sebagai berikut:
Menganalisis skenario bersama sutradara dan juru kamera mengenai kontruksi dramatinya.
Melakukan pemilihan shot yang terpakai (OK) dan yang tidak (NG) sesuai shooting report.
Menyiapkan bahan gambar dan menyusun daftar gambar yang memerlukan efek suara.
Berkonsultasi dengan sutradara atas hasil editingnya.
Bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan semua materi gambar dan suara yang diserahkan kepadanya untuk keperluan editing.

b. Review Hasil Editing
Setelah film selesai diproduksi maka kegiatan selanjutnya adalah pemutaran film tersebut secara intern. Alat untuk pemutaran film dapat bermacam-macam, dapat menggunakan VCD/DVD player dengan monitor TV, ataupun dengan PC (CD-ROM) yang diproyeksikan dengan menggunakan LCD (Light Computer Display). Pemutaran intern ini berguna untuk review hasil editing. Jika ternyata terdapat kekurangan atau penyimpangan dari skenario maka dapat segera diperbaiki. Bagaimanapun juga editor juga manusia biasa yang pasti tidak luput dari kelalaian. Maka kegiatan review ini sangat membantu tercapainya kesempurnaan hasil akhir suatu film.

c. Presentasi dan Evaluasi
Setelah pemutaran film secara intern dan hasilnya dirasa telah menarik dan sesuai dengan gambaran skenario, maka film dievaluasi bersama-sama dengan kalangan yang lebih luas. Kegiatan evaluasi ini dapat melibatkan :
Ahli Sinematografi.
Untuk mengupas film dari segi atau unsur dramatikalnya.
Ahli Produksi Film.
Untuk mengupas film dari segi teknik, baik pengambilan gambar, angle, teknik lighting,  dll.
Ahli Editing Film (Editor).
Untuk mengupas dari segi teknik editingnya.
Penonton/penikmat film.
Penonton biasanya dapat lebih kritis dari para ahli atau pekerja film. Hal ini dikarenakan mereka mengupas dari sudut pandang seorang penikmat film yang mungkin masih awam dalam pembuatan film.